17 Oktober 2019

Intoleransi dan Alergi pada Anak, Ini Bedanya

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati

Kebanyakan orang salah kaprah tentang dua hal yang serupa namun sebenarnya tidak sama, yaitu intoleransi dan alergi. Ketika seseorang makan sesuatu dan mengalami reaksi tertentu, kebanyakan pasti akan menganggapnya sebagai reaksi alergi. Padahal, belum tentu demikian. Bahkan sebenarnya, sebagian besar reaksi tubuh yang terjadi akibat ‘salah makan’ disebabkan oleh intoleransi.

Lantas, bagaimana cara membedakan intoleransi dan alergi?

Intoleransi

Intoleransi adalah suatu reaksi yang terjadi akibat tubuh tidak mampu mencerna suatu bahan makanan. Contoh, intoleransi laktosa merupakan kondisi saat tubuh tidak mampu mencerna laktosa pada susu. Pada orang yang mengalami intoleransi laktosa, konsumsi susu murni yang mengandung laktosa dapat menyebabkan berbagai gangguan, seperti mual dan muntah, perut kembung, nyeri perut, diare, hingga nyeri kepala.

Adapun beberapa alasan medis yang mendasari mengapa seseorang mengalami intoleransi terhadap jenis makanan tertentu, yaitu:

  • Kekurangan enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan. Misalnya, ketiadaan enzim laktase pada pasien intoleransi laktosa.
  • Irritable bowel syndrome, yaitu suatu peradangan kronis pada usus yang menyebabkan tidak sempurnanya kerja saluran cerna.
  • Sensitif terhadap bahan makanan tertentu, misalnya MSG (monosodium glutamate) atau mecin.
  • Stres psikis atau pikiran negatif terhadap jenis makanan tertentu.
  • Celiac disease. Konsumsi bahan makanan yang mengandung gluten dapat menyebabkan seorang penderita celiac disease mengalami gejala intoleransi. Pada kasus ini, sebenarnya proses kimiawi dalam tubuh menyerupai reaksi alergi karena melibatkan sistem imunitas.

Meski gejalanya cukup mengganggu, umumnya reaksi yang disebabkan intoleransi tidak berbahaya. Kondisi ini sangat berbeda dengan reaksi alergi, di mana orang yang mengalaminya berpotensi kehilangan nyawa.

Alergi

Pada alergi, proses yang terjadi pada tubuh jauh lebih rumit daripada intoleransi. Pasalnya, proses ini melibatkan sistem imunitas atau kekebalan tubuh.

Normalnya, sistem imunitas bertugas sebagai ‘tentara penjaga’ yang melindungi tubuh dari serangan kuman atau pengganggu dari luar. Namun, pada orang yang punya alergi tertentu, sistem imunitas akan menyerang segala sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya. Saat itulah reaksi alergi terjadi.

Bagi orang yang alergi, gejalanya jauh lebih berat dibandingkan dengan intoleransi. Gejala tersebut meliputi:

  • Ruam merah pada tubuh
  • Gatal-gatal
  • Sesak napas akibat penyempitan saluran napas
  • Batuk-batuk
  • Muntah
  • Nyeri perut
  • Bengkak pada tubuh
  • Penurunan tekanan darah

Alergi yang sifatnya berat dapat sangat berbahaya karena mampu memicu reaksi anafilaktik. Ini adalah penurunan tekanan darah dan menyebabkan kehilangan kesadaran, sehingga mampu mengancam nyawa orang yang mengalaminya.

Kalau sudah pada tahap seperti itu, pertolongan medis dengan segera sangat diperlukan. Oleh karena itu, orang yang memiliki riwayat alergi harus paham betul hal apa saja yang dapat memicu reaksi dan sedapat mungkin menghindarinya.

Beda proses yang melatari, tanda, serta gejala itulah yang menjadi dasar perbedaan antara intoleransi dan alergi. Namun secara umum, kedua kondisi tersebut perlu diketahui pemicunya agar anak maupun orang dewasa yang mengalami mampu menghindari terjadinya kekambuhan gejala di kemudian hari.

(NB/ RH)

Sumber:

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-allergy/expert-answers/food-allergy/faq-20058538

https://kidshealth.org/en/parents/allergy-intolerance.html?WT.ac=pairedLink