22 November 2019

Kapan Anak Perlu Mulai Berolahraga?

Oleh dr. Andika Widyatama

Begitu pentingnya untuk kesehatan dan menunjang tumbuh kembang anak, olahraga bukanlah lagi pilihan, melainkan keharusan. Anak yang kurang aktif secara fisik dan tidak berolahraga secara rutin berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan. Di antaranya penurunan konsentrasi, kesulitan tidur, obesitas, diabetes, hipertensi, hingga stres. Namun, kapan waktu yang tepat untuk memulainya?

Kebiasaan olahraga pada anak sebaiknya ditanamkan sedini mungkin. Dengan begitu, diharapkan menjadi kebiasaan yang terus menyertai anak hingga ia dewasa. Dalam mengenalkan dan mengajarkan anak untuk berolahraga, lakukanlah secara bertahap. Berikan contoh serta pengawasan setiap ia beraktivitas fisik.

Waktu yang tepat untuk memulai olahraga pada anak

Anak balita dan anak usia prasekolah (4-5 tahun) dianjurkan untuk melakukan permainan yang menuntut gerakan fisik. Untuk balita, paling tidak ia aktif bermain selama minimal 60 menit per hari. Sedangkan untuk anak usia prasekolah, ia dianjurkan untuk aktif bermain selama tak kurang dari 120 menit per hari.

Permainan yang bisa dilakukan misalnya seperti berlari, main petak umpet, mendorong ayunan, atau bermain di playground. Pada usia balita, olahraga berperan untuk melatih kemampuan motorik, kemampuan koordinasi mata-tangan, keseimbangan, dan ritme gerak.

Untuk anak usia sekolah (6 tahun ke atas) dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik paling tidak 60 menit per hari. Aktivitas fisik pada usia ini bisa dengan permainan yang menggunakan sedikit instruksi, misalnya lempar tangkap bola.

Untuk anak yang berusia 7-11 tahun, ia bisa diajarkan aktivitas fisik yang lebih kompleks. Anda bisa mengajarkannya permainan yang memiliki peraturan dan instruksi fleksibel seperti sepak bola, kasti, basket, dan lain-lain.

Pada tahapan usia sekolah, Anda juga bisa memastikan gerak aktif si Kecil dengan mendaftarkannya ke dalam klub olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat mereka.

Sebisa mungkin buatlah olahraga menjadi hal yang menyenangkan, sama menyenangkannya seperti ia sedang bermain. Jika mungkin, Anda juga bisa memaksimalkan aktivitas fisik anak, misalnya mengajari anak untuk menggunakan tangga ketimbang lift atau eskalator.

Jangan lengah, awasi anak saat ia bermain gawai

Di era digital seperti saat ini, anak punya kecenderungan banyak menghabiskan waktu menonton tayangan di TV atau bermain gawai. Ini dapat membuat anak kurang aktif secara fisik, atau menjadikannya malas untuk berolahraga. Belum lagi jika anak memang kecanduan gawai, terdapat berbagai risiko kesehatan yang mengintai.

Untuk mencegah dan menghindarinya, American Academy of Pediatrics (AAP) memberikan saran sebagai berikut:

  • Tentukan jadwalkan waktu tetap penggunaan TV, video game, dan perangkat elektronik lainnya seperti smartphone atau tablet.
  • Batasi waktu penggunaan gawai, televisi, atau video games maksimal 1 jam per hari untuk anak usia 2-5 tahun.
  • Hindari paparan terhadap berbagai gawai, TV, atau video game pada anak di bawah usia 18 bulan.
  • Jika usia anak sudah cukup, ajak ia untuk menonton program acara yang berkualitas sekaligus memberikan edukasi untuk anak.
  • Hindari meletakkan TV, komputer, video game di dalam kamar tidur anak.
  • Matikan segala jenis gawai pada jam makan.

Sebetulnya tidak ada aturan baku tentang kapan anak perlu mulai berolahraga. Namun sebagai orang tua, cobalah untuk tanamkan kebiasaan tersebut secara rutin sedini mungkin, lalu beri tahu ia apa saja manfaat olahraga teratur untuk kesehatan dan kebugarannya. Imbangi pula dengan pola makan bergizi seimbang dan pola hidup sehat lainnya. Jadilah contoh yang baik untuk anak sehingga ia akan terus termotivasi!

(RN/ RH)