30 Mei 2018

Perlukah Anak Konsumsi Makanan Organik?

Oleh dr. Theresia Rina Yunita

Sebagai orang tua, menjaga asupan nutrisi anak merupakan hal yang harus menjadi prioritas. Tidak hanya lewat cara mengolah makanan, bahan-bahan yang digunakan pun harus diperhatikan. Bahkan, banyak orang yang tua yang mulai mempertimbangkan dan beralih pada makanan organik demi menjaga kesehatan anak.

Ketika berbelanja di pasar swalayan, pasti Anda sering melihat area atau rak khusus yang dipenuhi bahan makanan dengan berbagai label organik. Mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, daging, telur, produk olahan susu, dan berbagai produk lainnya.

Makanan organik yang berasal dari tanaman umumnya tidak menggunakan pestisida dan pupuk sintetis, sedangkan makanan organik yang berasal dari hewan harus bebas antibiotik, tidak disuntik hormon, tidak terpapar radiasi, dan diberikan pakan organik.

Berdasarkan cara dan proses penanaman dan pengolahannya, bahan-bahan makanan organik tentunya lebih sehat dikonsumsi, khususnya dalam menunjang tumbuh kembang anak. Berikut manfaat makanan organik bagi kesehatan:

  • Mencegah alergi. Pada berbagai studi yang dilakukan membuktikan bahwa konsumsi makanan organik dapat menurunkan angka kejadian alergi pada anak.
  • IQ yang lebih tinggi. Fakta lainnya adalah bahwa wanita hamil yang mengonsumsi makanan nonorganik cenderung memiliki anak dengan IQ yang lebih rendah dibandingkan dengan anak lain seusianya.
  • Mencegah timbulnya penyakit. Makanan organik yang bebas zat kimia juga mendukung anak untuk terbebas dari berbagai penyakit hingga ia dewasa kelak.
  • Kandungan antioksidan dan vitaminnya lebih banyak. Beberapa penelitian menemukan bahwa makanan organik mengandung antioksidan yang tinggi, bahkan mencapai 69 persen bila dibandingkan dengan makanan nonorganik. Kandungan vitamin C pada makanan organik juga lebih tinggi hingga 52 persen.
  • Lebih sedikit nitrat. Nitrat sering dihubungkan dengan risiko kanker di berbagai bagian tubuh. Makanan organik terbukti mengandung nitrat lebih sedikit, yaitu hingga 30 persen. Jadi, risiko makanan organik terhadap timbulnya kanker lebih rendah.
  • Tinggi serat. Makanan organik mengandung serat lebih tinggi sehingga lebih baik untuk sistem cerna anak.

Walaupun diklaim memiliki lebih banyak manfaat dibandingkan makanan nonorganik, makanan organik juga memiliki kekurangan. Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Makanan organik lebih sulit didapat. Berdasarkan fakta lapangan, ketersediaan makanan organik masih terbatas. Tidak semua pasar swalayan menawarkan pilihan produk-produk ini. Makanan organik juga sangat jarang ditemui di pasar tradisional.
  • Harganya lebih mahal.  Karena proses penanaman dan perawatan yang lebih kompleks dan mahal, membuat harga jual makanan organik di pasaran pun ikut melambung tinggi.
  • Lebih cepat membusuk. Bahan makanan organik lebih cepat membusuk karena tidak mengandung pengawet. Itulah sebabnya Anda harus sering bolak-balik membeli bahan makanan organik segar karena tidak bisa disimpan terlalu lama.
  • Penampilan tidak menarik. Kadang harus diakui bahwa berbagai makanan organik berpenampilan kurang menarik dibandingkan dengan aneka makanan konvensional.

Makanan organik memang dipercaya lebih sehat dibandingkan dengan makanan nonorganik, tapi perlu atau tidaknya anak diberikan makanan organik masih menjadi perdebatan. Jadi, semuanya kembali ke diri masing-masing Anda sebagai orang tua.

Walaupun manfaat makanan organik masih memerlukan penelitian lebih lanjut, tapi tak ada salahnya mengonsumsi makanan organik jika Anda dapat dengan mudah menemukannya di pasar swalayan terdekat. Pilihan ada di tangan Anda.

 

(RN/ RH)